Tentang Toraja

I. SEJARAH DAN SUKU TORAJA

A. Sejarah Singkat
Sebelum abad ke-20, suku toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Dan pada awal tahun 1920-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen di Toraja.

Akibat pengaruh misionaris Belanda, saat ini Suku Toraja mayoritas memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan sebagian lagi menganut kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia, dan terus mengalami pengembangan dalam sector pariwisata.

B. Suku Toraja
Suku Toraja, adalah merupakan salah satu suku di Sulawesi Selatan yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia, tepatnya di Kabupaten Tana Toraja. Saat ini, Toraja telah dimekarkan menjadi dua (2) kabupaten yaitu Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Kata toraja sendiri berasal dari bahasa Bugis. to, yang berarti orang, dan Riaja, yang berarti dataran tinggi. Sebutan toraja pertama kali digunakan oleh penduduk dataran rendah sebagai sebutan untuk penduduk dataran tinggi. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman & pembersihan mayat, rumah adat tongkonan serta ukiran kayunya.

Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman & pembersihan mayat, rumah adat tongkonan, serta ukiran kayunya. Ritual pemakaman & pembersihan mayat di Toraja merupakan acara adat leluhur suku toraja yang masih selalu dilaksanakan hingga saat ini. Ritual tersebut merupakan daya tarik bagi para wisatawan domestic & manca negara untuk menyaksikannya.


II. MASYARAKAT

A. Keluarga
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya), adalah praktik umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, hal ini untuk mencegah penyebaran harta bangsawan tersebut. Hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan utang.
Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desa biasanya membentuk kelompok; kadang-kadang, beberapa desa akan bersatu membantu desa lain untuk menangani masalahnya.

B. Kelas Sosial
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas social di Toraja yaitu : bangsawan, orang biasa, dan budak (namun perbudakan telah dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda).
Laki-laki tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas sosial yang lebih rendah, tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas sosial yang lebih tinggi. Ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Dengan alasan martabat keluarga, sikap “merendahkan” dari bangsawan terhadap rakyat jelata masih ada yang mempertahankannya hingga saat ini.
Kaum bangsawan, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka.
Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja. Beda halnya dengan para bangsawan, biasanya mereka melakukan pernikahan dalam keluarga (masih status keluarga) untuk menjaga kemurnian status sosial mereka.
Seiring perkembangan jaman, status sosial masyarakat toraja bisa berubah akibat status pernikahan dan perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.


III. KEBUDAYAAN

A. Tongkonan
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja tongkon yang berarti duduk.
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja, oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta dalam ritual tersebut karena Tongkonan melambangkan hubungan mereka dengan leluhur mereka.

Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat “pemerintahan”. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi local. Sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu.
Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

B. Ukiran Kayu
Suku Toraja menggunakan Bahasa yang hanya dapat diucapkan, namun tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan status sosial, orang Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Passura (atau “tulisan”). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.

Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebaikan. Salah satu motif ukiran toraja adalah motif kerbau yang melambangkan kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Motif lain adalah simpul dan kotak, melambangkan sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian.

C. Upacara Pemakaman
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman atau disebut Rambu Solo, merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar upacara pemakaman yang besar. Upacara pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.
Sebuah tempat dilaksanakannya prosesi pemakaman disebut rante. Selain sebagai tempat pelayat yang hadir, rante juga sebagai tempat lumbung padi. Berbagai perangkat pemakaman dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka suku Toraja
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.
Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah disimpan di tongkonan, dan oleh keluarga hanya dianggap sakit sampai dilasanakannya upacara pemakaman. Setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau (Mantunu). Semakin berkuasa atau semakin tinggi status sosial seseorang, maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat, karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada beberapa bentuk kuburan dari adat toraja, diantaranya : Kuburan gantung, dimana peti mati ditempatkan di bagian pinggir atas tebing dengan ditopang kayu atau diikat. Kuburan Goa, dimana peti mati diletakkan di dalam goa yang terbentuk secara alami. Kuburan tebing dipahat, dimana peti mati dimasukkan ke dalam tebing batu yang sudah dilobangi dengan cara dipahat.

Kuburan Batu, kuburan ini hampir sama dengan kuburan tebing batu, hanya saja kuburan batu ini adalah merupakan onggokan batu besar (bukan tebing) yang dilobangi dengan cara dipahat. Kuburan batu yang dipahat tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan karena pengerjaannya secara tradisional. Kuburan Pohon, yaitu kuburan untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, dengan cara melobagi batang pohon tersebut. Pohon yang digunakan untuk kuburan ini bukan sembarang pohon, yang dipilih hanyalah pohon tarra karena pohon ini getahnya banyak dan tumbuh tegak keatas.

D. Musik dan Tarian
Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma’badong). Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma’randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, perisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma’randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma’katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma’akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma’dondan.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma’bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma’gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras.
Adapula tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma’dandan oleh perempuan.
Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma’bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma’bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa’suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma’bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa’pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.


IV. BAHASA
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa’dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae’ , Talondo’ , Toala’ , dan Toraja-Sa’dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian.
Pentingnya upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan duka cita dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja mempunyai banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan mental.


V. EKONOMI
Sebelum masa Orde Baru, ekonomi Toraja bergantung pada pertanian dengan adanya terasering di lereng-lereng gunung dan bahan makanan pendukungnya adalah singkong dan jagung. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk berternak kerbau, babi, dan ayam yang dibutuhkan terutama untuk upacara pengorbanan dan sebagai makanan. Satu-satunya industri pertanian di Toraja adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja.
Dengan dimulainya Orde Baru pada tahun 1965, ekonomi Indonesia mulai berkembang dan membuka diri pada investasi asing. Banyak perusahaan minyak dan pertambangan Multinasional membuka usaha baru di Indonesia. Masyarakat Toraja, khususnya generasi muda, banyak yang berpindah untuk bekerja di perusahaan asing. Mereka pergi ke Kalimantan untuk kayu dan minyak, ke Papua untuk menambang, dan ke kota-kota di Sulawesi dan Jawa, dan lain sebagainya.
Sebelum tahun 1970-an, Toraja hampir tidak dikenal oleh wisatawan barat. Pada tahun 1971, sekitar 50 orang Eropa mengunjungi Tana Toraja. Pada 1972, sedikitnya 400 orang turis menghadiri upacara pemakaman Puang dari Sangalla, bangsawan tertinggi di Tana Toraja dan bangsawan Toraja terakhir yang berdarah murni. Peristiwa tersebut didokumentasikan oleh National Geographic dan disiarkan di beberapa negara Eropa. Pada 1976, sekitar 12,000 wisatawan mengunjungi Toraja dan pada 1981, seni patung Toraja dipamerkan di banyak museum di Amerika Utara.
Pada tahun 1984, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Kabupaten Toraja sebagai primadona Sulawesi Selatan. Tana Toraja dipromosikan sebagai “perhentian kedua setelah Bali”. Pariwisata di Toraja meningkat pesat. Masyarakat Toraja memperoleh pendapatan dengan bekerja di hotel, menjadi pemandu wisata, atau menjual cenderamata.
Menjelang tahun 1985, terdapat 150.000 turis asing dan 80.000 turis domestik yang mengunjungi Tana Toraja, dan jumlah pengunjung asing tahunan tercatat terus meningkat.
Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis, memiliki kekayaan budaya dan terpencil. Wisatawan Barat dianjurkan untuk mengunjungi desa zaman batu dan pemakaman purbakala yaitu di Toraja. Toraja adalah tempat bagi wisatawan yang telah mengunjungi Bali dan ingin melihat pulau-pulau lain yang liar dan “belum tersentuh”.
Namun, orang Toraja merasa bahwa tongkonan dan berbagai ritual Toraja lainnya telah dijadikan sarana mengeruk keuntungan, dan protes karena hal tersebut terlalu dikomersialkan. Hal ini berakibat pada beberapa bentrokan antara masyarakat Toraja dan pengembang pariwisata, yang dianggap sebagai orang luar oleh suku Toraja.
Bentrokan antara para pemimpin lokal Toraja dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (sebagai pengembang wisata) terjadi pada tahun 1985. Pemerintah menjadikan 18 desa Toraja dan tempat pemakaman tradisional sebagai “objek wisata”. Akibatnya, beberapa pembatasan diterapkan pada daerah-daerah tersebut, misalnya orang Toraja dilarang mengubah tongkonan dan tempat pemakaman mereka. Hal tersebut ditentang oleh beberapa pemuka masyarakat Toraja, karena mereka merasa bahwa ritual dan tradisi mereka telah ditentukan oleh pihak luar. Akibatnya, pada tahun 1987 desa Kete Kesu dan beberapa desa lainnya yang ditunjuk sebagai “objek wisata” menutup pintu mereka dari wisatawan. Namun penutupan ini hanya berlangsung beberapa hari saja karena penduduk desa merasa sulit bertahan hidup tanpa pendapatan dari penjualan souvenir.
Untuk Wisata di Toraja, dapat dilihat di sini …


Sumber referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *